TPID MEDAN

Tim Pengendali Inflasi Daerah Kota Medan (TPID MEDAN).

TPID MEDAN

Tim Pengendali Inflasi Daerah Kota Medan (TPID MEDAN).

TPID MEDAN

Tim Pengendali Inflasi Daerah Kota Medan (TPID MEDAN).

TPID MEDAN

Tim Pengendali Inflasi Daerah Kota Medan (TPID MEDAN).

TPID MEDAN

Tim Pengendali Inflasi Daerah Kota Medan (TPID MEDAN).

Kamis, 20 Juni 2013

Puncak inflasi diprakirakan Juli

THURSDAY, 20 JUNE 2013 19:22
Puncak inflasi diprakirakan Juli
Ekonomi & Bisnis
WASPADA ONLINE

JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memprediksikan Inflasi tertinggi tahun ini akan terjadi Juli mendatang. Hal tersebut dikarenakan adanya kenaikan harga BBM bersubsidi dan bulan Ramadan.

"Pasti akan mempengaruhi tapi belum, tapi puncaknya Juli karena terkait Lebaran dan tahun ajaran baru," ujar Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal Bambang Brodjonegoro, hari ini.

Menurut Bambang, kenaikan akan berdampak dalam tiga bulan ke depan. Namun setelah itu inflasi akan berjalan normal. "Juli, Agustus, September yang berat, setelah itu mulai mereda," ujar Bambang.

Oleh sebab itu, lanjut Bambang, pada 2014 inflasi akan berjalan secara normal. Bila tidak ada kebijakan signifikan pemerintah menargetkan inflasi berada pada level 4,5 plus minus 1 persen.

"Kalau 2014 tidak ada kebijakan yang spesifik atau signifikan, ya akan rendah seperti basis tahun 2012," ujar Bambang.
(dat16/oke)

Sumber Berita : http://www.waspada.co.id/





THURSDAY, 20 JUNE 2013 15:12
Hatta yakin antisipasi inflasi
Ekonomi & Bisnis
WASPADA ONLINE

JAKARTA - Target inflasi yang ditetapkan sebesar 7,2 persen dinilai masih realistis, kendati pengalaman pada 2005-2008 saat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) inflasi tembus dua digit.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan pengalaman masa lalu perlu dijadikan pelajaran untuk mengantisipasi hal-hal yang bisa menyebabkan kenaikan inflasi.

"Itulah mengapa kita belajar dari yang lalu. Kita antisipasi satu demi satu apa saja komponen-komponen yang bersifat memberikan sumbangan kepada inflasi," ungkap Hatta di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, hari ini.

Hatta menjelaskan, asumsi inflasi inti adalah sekitar 4,5-4,6 persen, inflasi bahan pokok di kisaran 9-10 persen dan inflasi harga yang diatur pemerintah 14 persen. Sehingga total inflasi bisa tetap dijaga di 7,2 persen.

Menurut Hatta yang perlu dijaga untuk tetap bisa mencapai 7,2 persen adalah ketersediaan dan stabilitas harga bahan pangan. "Yang perlu kita lihat yang pertama yang bersifat volatile food," ujarnya.

Sementara, untuk transportasi dia mengatakan akan tetap dijaga agar tidak terganggu menjelang Lebaran. "Angkutan-angkutan yang kita rasakan penyeberangan, yang kurang kita antisipasi untuk kita cukupi, penyeberangan Merak-Bakaheuni dan penyeberangan lain disiapkan ferinya," dia menjelaskan.
(dat06/okz)

Sumber Berita : http://www.waspada.co.id/

Minggu, 16 Juni 2013

BBM Naik Jelang Ramadan, Inflasi Bakal Meroket Hingga 200%


EKONOMI

BBM Naik Jelang Ramadan, Inflasi bakal Meroket Hingga 200%

Minggu, 16 Juni 2013 | 21:01 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jelang puasa, Hari Raya Idul Fitri, dan tahun ajaran baru diprediksi mendorong inflasi hingga 200%. Penaikan harga barang bakal terjadi khususnya pada pangan pokok.

"Dalam siklus biasa, inflasi akan bertambah di atas 1% secara tahunan saat puasa, tahun ajaran baru, dan lebaran. Tapi, kalau ada penaikan BBM, inflasi bisa tambah lebih dari 3%," ujar pengamat ekonomi Institute for Development Economics and Finance (Indef) Eko Lisyanto saat dihubungi Media Indonesia, Minggu (16/6).

Misalnya harga beras yang saat ini berkisar Rp8.000 per Kg akan terdongkrak ke atas Rp10 ribu/Kg. Hal senada juga terjadi pada barang-barang kebutuhan pokok lain, seperti gula, kedelai, dan lainnya.

Dengan melambungnya inflasi, kata Eko, daya beli masyarakat akan berkurang. Alasannya, penaikan harga pangan itu tidak diiringi dengan peningkatan pendapatan. "Saya tidak tahu apa yang menjadi pertimbangan pemerintah menaikkan harga jelang puasa. Tapi, kebijakan tersebut akan membuat kondisi semakin sulit," tutur Eko.

Oleh karena itu, lanjut Eko, pemerintah harus menjaga ketersediaan pangan melalui kelancaran arus barang. Langkah ini cukup meredam laju inflasi dalam jangka pendek.

"Suplai barang harus tetap dijaga. Meski harus melalui impor seperti kasus bawang merah dan bawang putih. Tapi pembukaan keran impor sebenarnya bukan kebijakan bagus sih," tekannya.

Sebagai informasi, pemerintah dan DPR) terus membahas APBN-Perubahan yang didalamnya berisi penyesuaian harga BBM bersubsidi. Sebagai gantinya, pemerintah akan mengalokasikan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) sebesar Rp9,3 triliun kepada 15 juta kepala keluarga. Sementara, anggaran tambahan untuk raskin tetap Rp4,3 triliun, bantuan siswa miskin (BSM) sebesar Rp7,5 triliun, dan Program Keluarga Harapan (PKH) sebesar Rp0,7 triliun. 

Menurut Eko, BLSM memang cukup membantu masyarakat untuk jangka pendek. Akan tetapi, pemerintah tetap harus memerhatikan waktu dan sistem penyalurannya.

Dia mengungkapkan, BLSM rencananya akan dibagikan secara akumulatif di bulan ketiga. Namun, skema penyaluran tersebut justru tidak akan berdampak.

"Tekanan inflasi kan terjadi pada Juni, Juli, dan Agustus, saat puasa ini. Kalau dengan skema penyaluran BLSM per 3 bulan, ya masyarakat tidak mampu ya sudah keburu susah," tuturnya. (Daniel Wesly Rudolf)
Editor: Henri Salomo Siagian

Sumber Berita : http://www.metrotvnews.com/

Jumat, 14 Juni 2013


TPID MEDAN, Selasa, 11 Juni 2013. Rapat Koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah Provinsi Sumatera Utara (TPID Sumut) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah Kota Medan (TPID Medan) di Gedung Bank Indonesia Cabang Medan Lt.3.








Kamis, 06 Juni 2013

Rabu, 05 Juni 2013

Harga Bawang Turun, Cabai Melonjak

Harga Bawang Turun, Cabai Melonjak
Tribun Medan - Kamis, 21 Maret 2013 08:49 WIB

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan (kiri) didampingi Gubernur Jawa Timur Soekarwo (kedua dari kiri) inspeksi mendadak sejumlah harga bawang di Pasar Wonokromo, Surabaya, Selasa (19/3/2013). Harga bawang putih yang sebelumnya mencapai Rp70.000 kini turun menjadi Rp50.000 perkilogramnya.






Menteri Perdagangan Gita Wirjawan (kiri) didampingi Gubernur Jawa Timur Soekarwo (kedua dari kiri) inspeksi mendadak sejumlah harga bawang di Pasar Wonokromo, Surabaya, Selasa (19/3/2013). Harga bawang putih yang sebelumnya mencapai Rp70.000 kini turun menjadi Rp50.000 perkilogramnya.

TRIBUN-MEDAN.com, JAKARTA - Harga bawang merah dan bawang putih mulai turun sekalipun dilaporkan masih tetap tinggi di sejumlah daerah. Adapun harga sejumlah komoditas hortikultura lainnya, seperti cabai dan tomat, dilaporkan naik di sejumlah daerah.

Hasil pemantauan Kompas di Pasar Induk Kramat Jati, Pasar Jatinegara, dan Pasar Mayestik, Jakarta, Rabu (20/3/2013), menunjukkan, harga cabai rawit merah dan tomat naik. Harga cabai rawit merah yang biasanya Rp 25.000 kini Rp 50.000 per kilogram.

Di Pasar Induk Kramat Jati, harga cabai rawit merah mencapai Rp 40.000-Rp 45.000 per kg. Di Pasar Jatinegara, cabai rawit merah dijual Rp 40.000- Rp 50.000 per kg. Di Pasar Mayestik, cabai rawit merah dijual Rp 50.000-Rp 60.000 dari harga sebelumnya Rp 25.000- Rp 35.000 per kg.

Harga tomat di Pasar Induk Kramat Jati Rp 6.500-Rp 8.000 per kg. Di Pasar Jatinegara dan Pasar Mayestik, tomat dijual Rp 14.000-Rp 16.000 per kg, naik dari sebelumnya Rp 10.000- Rp 13.000 per kg.

Di Solo, Jawa Tengah, menurut pedagang di Pasar Legi, Ngatmi (32), harga cabai rawit merah sejak dua hari lalu naik dari Rp 35.000 menjadi Rp 40.000 per kg. Sementara harga cabai rawit hijau, cabai rawit merah besar, dan cabai merah keriting stabil. Harga beberapa jenis sayur produksi lokal, seperti wortel, kubis, kentang, labu siam, dan buncis, juga relatif stabil.

Di Pasar Pagi Tegal, Jateng, kemarin, harga cabai rawit merah naik dari Rp 40.000 menjadi Rp 45.000 per kg. Pantauan Kompas juga menemukan, harga tomat naik dari Rp 10.000 menjadi Rp 12.000 per kg. Harga sejumlah produk hortikultura pun naik, seperti buncis dari Rp 6.000 menjadi Rp 8.000 per kg, kubis dari Rp 3.000 menjadi Rp 6.000 per kg, dan kembang kol dari Rp 10.000 jadi Rp 15.000 per kg.

Para pedagang menduga, tingginya harga sayuran disebabkan pengaruh cuaca yang berdampak pada berkurangnya panen sehingga stok sayuran berkurang. Uripah (36), pedagang di Pasar Pagi, mengatakan, tingginya harga sayuran menyulitkan pedagang memasarkan dagangannya.

Sementara itu, harga bawang mulai turun, tetapi masih relatif tinggi. Harga jual bawang merah impor di Pasar Induk Kramat Jati Rp 30.000-Rp 36.000 dan bawang merah asal Brebes Rp 40.000-Rp 45.000 per kg. Adapun harga bawang merah asal Brebes di Pasar Jatinegara Rp 40.000-Rp 60.000, dan di Pasar Mayestik Rp 45.000-Rp 50.000 per kg.

Harga bawang di Pasar Induk Kramat Jati naik Rp 1.000-Rp 7.000 per kg. Menurut pedagang bawang di Pasar Induk Kramat Jati, Maja dan Abraham Nababan, harga yang masih tinggi disebabkan sedikitnya tonase bawang yang masuk ke pasar induk. ”Hari ini tonase yang masuk cuma sedikit,” kata Abraham.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, dalam acara rapat koordinasi gubernur se-Sumatera dan Banten, Rabu, di Bandar Lampung, sempat menyinggung soal kenaikan komoditas bawang beberapa waktu terakhir ini.

”Harga bawang putih memberikan inflasi 0,12 persen. Itu mengakibatkan tekanan pada daya beli. Mari kita ikut menekan inflasi dan menjaga momentum pertumbuhan,” ujarnya.

Di sela-sela acara itu, Hatta mengatakan, persoalan mengenai kenaikan harga bawang sudah diatasi dengan melepaskan bawang impor yang tertahan di Tanjung Perak.

Sementara itu, Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tanjung Perak Ircham Habib, di Surabaya, Rabu, mengatakan, sebanyak 332 kontainer berisi bawang putih impor yang tertahan sejak Januari ternyata belum dapat dikeluarkan. Dokumen untuk mengeluarkan ratusan kontainer itu belum lengkap dan berstatus barang tidak dikuasai.(K09/NIK/JON/DEN/WIE/EGI/BAY/EKI)
Editor : Raden Armand Firdaus
Sumber : Kompas.com

Sumber Berita : http://medan.tribunnews.com/